Tag Archives: History

Aplikasi Alternatif Untuk Merekam Segala Jenis Notifikasi Dan Mengetahui Pesan Whatsapp Yang Dihapus

belakangan lagi hot nih orang” pada menginstall aplikasi ‘Recent Notification’ buatan ‘LibApps’ karena mulai marak artikel yang membahas tentang bagaimana cara mengetahui pesan Whatsapp yang dihapus.

Recent Notification by LibApps

Recent Notification by LibApps

tapi kalau saya sendiri sebenarnya sudah menggunakan aplikasi serupa sejak dahulu sebelum Whatsapp memiliki fitur untuk menghapus pesan yang dikirim. untuk apa? karena saya sendiri tergolong orang yang ceroboh, kadang secara reflek notifikasi yang ada saya clear tanpa membaca keseluruhan terlebih dahulu. jadi kadang saya bingung: apa ya tadi, belum kebaca udah terlanjur kehapus..

nah selama ini saya menggunakan aplikasi serupa dengan ‘Recent Notification’ tetapi menurut saya fiturnya lebih bagus dan powerful serta tidak banyak memakan memory. aplikasi itu namanya ‘Notification History’ buatan ‘Yotta Studio’.

Notification History by Yotta Studio

Notification History by Yotta Studio

kenapa saya lebih memilih ‘Notification History’ by ‘Yotta Studio’..?

1.dapat mencatat semua jenis notifikasi. bukan hanya notifikasi dari aplikasi saja, melainkan dari sistem juga, bahkan ‘toast notification’ juga dapat dicatat. selain itu juga dapat merekam notifikasi USSD (biasanya aktifitas dari SIM card operator), Class 0 Message (pesan sistem broadcast), serta dialog popup dari aplikasi apapun juga dapat direkam.

2.adanya fitur ignore/abaikan aplikasi yang tidak ingin direkam notifikasinya.

3.fitur urutkan daftar rekaman/catatan berdasarkan waktu atau nama aplikasi.

4.fitur auto-purge (hapus otomatis) berdasarkan jumlah notifikasi atau batasan hari.

5.notifikasi yang berupa Toast, USSD, dan Class 0, dapat dibuatkan notifikasi normal seperti dari aplikasi biasa lengkap dengan personalisasi ringtone dan led notifikasi.

6.sangat hemat memori dan stabil.

contoh merekam dialog aplikasi

contoh merekam dialog aplikasi

oh ya, aplikasi ini ada 2 jenis: gratis dan berbayar.. menurut saya yang versi gratis saja sudah sangat memadai untuk digunakan.. selamat mencoba..!


Asal Usul Valentine’s Day

Dalam martirologi kuno, disebutkan ada tiga St Valentine yang berbeda, yang pestanya sama-sama dirayakan pada tanggal 14 Februari. Sayangnya, kita tidak punya cukup catatan sejarah mengenainya.

St Valentine yang pertama adalah seorang imam dan dokter di Roma. Ia, bersama dengan St Marius dan keluarganya, menghibur para martir pada masa penganiayaan oleh Kaisar Claudius II. Pada akhirnya, St Valentine juga ditangkap, dijatuhi hukuman mati karena imannya, didera dengan pentung dan akhirnya dipenggal kepalanya pada tanggal 14 Februari 270. Ia dimakamkan di Flaminian Way. Di kemudian hari, Paus Julius I (thn 333-356) mendirikan sebuah basilika di lokasi tersebut yang melindungi makam St Valentine. Penggalian-penggalian arkeologis yang dilakukan pada tahun 1500-an dan 1800-an menemukan bukti akan adanya makam St Valentine. Tetapi, pada abad ke-13, relikwinya dipindahkan ke Gereja Santo Praxedes dekat Basilika St Maria Mayor, di mana relikwi berada hingga sekarang. Juga, sebuah gereja kecil dibangun dekat Gerbang Flaminian di Roma yang dikenal sebagai Porta del Popolo, tetapi yang pada abad ke-12 disebut sebagai “Gerbang St Valentine,” seperti dicatat oleh ahli sejarah Inggris kuno William Somerset (juga dikenal sebagai William dari Malmesbury, wafat thn 1143), yang menempatkan St Beda sebagai otoritas Gereja Inggris awal.

St Valentine yang kedua adalah Uskup Interamna (sekarang Terni, terletak sekitar 60 mil dari Roma). Atas perintah Prefek Placidus, ia juga ditangkap, didera, dan dipenggal kepalanya, dalam masa penganiayaan Kaisar Claudius II.

St Valentine yang ketiga mengalami kemartiran di Afrika bersama beberapa orang rekannya. Tetapi, tidak banyak yang diketahui mengenai santo ini. Pada intinya, ketiga orang kudus ini, yang semuanya bernama Valentine, menunjukkan kasih yang gagah berani bagi Tuhan dan Gereja-Nya.

Kebiasaan populer mengungkapkan kasih sayang pada Hari St Valentine nyaris kebetulan bertepatan dengan pesta sang santo. Pada Abad Pertengahan, terdapat kepercayaan umum di kalangan masyarakat Inggris dan Perancis bahwa burung-burung mulai berpasangan pada tanggal 14 Februari, “pertengahan bulan kedua dalam tahun.” Chaucer menulis dalam karyanya, “Parliament of Foules” (dalam bahasa Inggris kuno): “Sebab ini adalah hari Seynt Valentyne, di mana setiap burung datang ke sana untuk memilih pasangannya.” Oleh karena alasan ini, hari tersebut diperuntukkan bagi para “kekasih” dan mendorong orang untuk mengirimkan surat, hadiah, atau tanda ungkapan kasih lainnya.

Suatu contoh literatur lain mengenai peringatan Hari St Valentine didapati dalam Dame Elizabeth Brews’ Paston Letters (1477), di mana ia menulis kepada John Paston, laki-laki yang hendak meminang puterinya, Margery: “Dan, saudaraku, hari Senin adalah hari St Valentine dan setiap burung memilih pasangan bagi dirinya, dan jika engkau mau datang pada hari Kamis malam, dan bersedia tinggal hingga waktu itu, aku percaya kepada Tuhan bahwa engkau akan berbicara kepada suamiku dan aku akan berdoa agar kami dapat memutuskan masalah ini.” Sebaliknya, Margery menulis kepada John: “Kepada Velentineku terkasih John Paston, Squyer, kiranya surat ini sampai kepadamu. Kepada dia yang terhormat dan Valentineku terkasih, aku menyerahkan diriku, dengan sepenuh hati berharap akan kesejahteraanmu, yang aku mohonkan kepada Tuhan yang Mahakuasa agar dilimpahkan kepadamu sepanjang Ia berkenan dan sepanjang hatimu mengharapkannya.” Sementara berbicara mengenai perasaan cinta kasih Hari Valentine, tidak disebutkan sama sekali mengenai Santo Valentine.

Walau tampaknya saling bertukar ucapan selamat valentine lebih merupakan kebiasaan sekular daripada kenangan akan St Valentine, dan meski perayaan lebih jauh telah dikafirkan dengan dewa dewi asmara dan semacamnya, namun ada suatu pesan Kristiani yang sepatutnya kita ingat. Kasih Tuhan kita, yang dilukiskan amat indah dalam gambaran akan Hati-Nya Yang Mahakudus, adalah kasih yang penuh pengurbanan, yang tidak mementingkan diri, dan yang tanpa syarat. Setiap umat Kristiani dipanggil untuk mewujudnyatakan kasih yang demikian dalam hidupnya, bagi Tuhan dan bagi sesama. Jelaslah, St Valentine – tanpa peduli yang mana – menunjukkan kasih yang demikian, menjadi saksi iman dalam pengabdiannya sebagai seorang imam dan dalam mempersembahkan nyawanya sendiri dalam kemartiran. Pada Hari Valentine ini, seturut teladan santo agung ini, setiap orang hendaknya mempersembahkan kembali kasihnya kepada Tuhan, sebab hanya dengan berbuat demikian ia dapat secara pantas mengasihi mereka yang dipercayakan ke dalam pemeliharaannya dan juga sesamanya. Setiap orang hendaknya mengulang kembali janji kasihnya kepada mereka yang terkasih, berdoa demi kepentingan mereka, berikrar setia kepada mereka, dan berterima kasih atas kasih yang mereka berikan.

Janganlah lupa akan sabda Yesus, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:12-13). St Valentine telah menunaikan perintah ini, dan kiranya kita melakukan hal yang sama.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: The Elusive St. Valentine” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright 2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com