Tag Archives: Indonesia

The Smurfs 2 Mc Donald’s Happy Meal [Indonesia]

The Smurfs 2

The Smurfs 2

Papa Smurf

Papa Smurf

Jokey Smurf

Jokey Smurf

Baker Smurf

Baker Smurf

Handy Smurf

Handy Smurf

Smurfette

Smurfette

Brainy Smurf

Brainy Smurf

Greedy Smurf

Greedy Smurf

Hefty Smurf

Hefty Smurf

Clumsy Smurf

Clumsy Smurf

Party Planner Smurf

Party Planner Smurf

Vexy & Hackus

Vexy & Hackus

The Smurfs 2

The Smurfs 2

akhirnya.. setelah Happy Meal yang sebelumnya (Despicable Me 2) ngga lengkap, kali ini The Smurf 2 di-nekat’in..!! secara juga udah seneng maen game-nya di Android hampir 2 tahun..!! langsung joss.. begitu tau ada Happy Meal-nya, dalam 2 hari udah komplit ke-12 mainannya..!! fufufu…

the bill

the bill


posted from my LG Optimus White
using WordPress for Android


Lintah Selingkuh Dari Kangkung.. [HOAX]

judul yang aneh ya?
hahahaha…

belakangan ini mulai lagi beredar HOAX (berita bohong) yang sudah lama menghilang dari masyarakat.
garis besarnya adalah : ada lintah yang bersembunyi di dalam batang kangkung yang dapat MEMBUNUH anda apabila kita memakan kangkung tersebut.

berikut saya berikan contoh hoax tersebut :

HOAX 1

HOAX 1

hoax ini tidak diketahui siapa yang menyebarkan, namun hoax ini diketahui dahulu pernah menyebar cepat melalui email. dengan seiring berkembangnya teknologi, dan maraknya orang Indonesia yang menggunakan Blackberry, maka berita bohong ini pun muncul kembali dan makin cepat menyebar melalui broadcast message. dan hebatnya, hoax ini makin banyak digemari dan dimodifikasi oleh para blogger dan penikmat hoax lainnya.

contoh hoax yang telah dimodifikasi :

HOAX 2

HOAX 2

hebat bukan?

sebagai pengguna internet dan teknologi lainnya, ada baiknya kita pintar-pintar memanfaatkan teknologi tersebut.
jika menerima sebuah informasi, tolong dipahami benar-benar, kalau perlu diteliti kebenarannya. jangan asal menerima informasi kemudian langsung menyebarkannya kembali, apalagi kalau malah ditambahkan bumbu-bumbu lagi.
kata nenek itu BERBAHAYA heeyyy..~!
sebab tidak semua pengguna internet dan teknologi itu ‘pintar’. kalau berita salah seperti ini sampai menyebar ke masyarakat, dan mereka mempercayai begitu saja lalu kemudian menjadi keresahan di masyarakat gimana hayoo..?

CEK DAHULU KEBENARAN INFORMASI YANG DIDAPAT !

dapat saya katakan yang membuat hoax ini adalah orang yang tidak punya otak.
kenapa?
ya! karena dalam hoax ini banyak informasi yang bertolak belakang dengan fakta!
oke, saya beri 2 referensi berikut ini :

FAKTA 1

FAKTA 1

dan :

FAKTA 2

FAKTA 2

referensi diatas adalah website dari perusahaan medis yang menjual lintah untuk kepentingan medis, dan website pengetahuan.
sudah dibaca belum? lalu apa kesimpulan yang didapat?

kesimpulan saya :
1.berita serupa tentang lintah dan kangkung adalah HOAX.
2.pembuat HOAX tersebut adalah orang nganggur yang ga punya otak.
3.tangkai atau batang kangkung memang berongga.
4.lintah adalah hewan penghisap darah, baik hewan ataupun manusia.
5.lintah biasa menghisap darah ikan, siput, belut, dan hewan sejenis di alamnya.
6.lintah adalah hewan hermaprodit. artinya dalam 1 tubuh lintah terdapat 2 jenis kelamin jantan dan betina, namun mereka tetap membutuhkan lintah lain untuk berkembang biak.
7.lintah dapat hidup ideal pada suhu sekitar 5-25°Celcius.
8.telur lintah akan menetas setelah 2 minggu. jadi tidak mungkin jika hanya dalam beberapa hari sudah berkembang biak dengan banyaknya.
9.usia hidup lintah 2-8 tahun.
10.lintah sensitif terhadap perubahan lingkungan.
11.gigitan lintah dapat dilepas dengan air tembakau, garam, atau api, yang akan membunuh lintah itu.
12.di dalam kangkung tidak ada darah, jadi buat apa lintah masuk ke dalam kangkung?
13.panas dari proses memasak kangkung ditambah dengan garam dan bumbu lainnya pastinya akan membunuh lintah, dilihat dari tempat hidup ideal lintah yang cenderung ber-suhu rendah.
14.apakah ada manusia yang memakan makanannya tanpa dikunyah? apalagi batang kangkung.. apa mungkin lintah dapat lolos dari kunyah’an itu?
15.teruslah makan kangkung..! 😀


Diskriminasi Menghancurkan Kita !

saya menemukan sebuah artikel yang cukup bagus tentang diskriminasi yang terjadi di negara kita ini.
mari kita buka pikiran kita dengan artikel ini. 🙂
semua isi artikel ini adalah karya dan milik penciptanya.

Oleh Soe Tjen Marching
( https://www.facebook.com/soetjen.full )

Apa beda Marissa Haque dan Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama? Banyak. Tentunya tidak perlu saya sebutkan lagi. Tapi, apa persamaannya? Mereka sama-sama mencalonkan diri menjadi wakil Gubernur (Banten dan Jakarta). Marissa dengan leluasa menyatakan tentang kakeknya, Siraj Ul Haque, yang berasal dari Uttar Pradesh, India Utara. Bahkan dalam satu satu blognya, dijelaskan bahwa kakeknya adalah orang India asli, sedangkan ayah mereka adalah orang Pakistan. Namun, ini tidak menjadi masalah. Marissa Haque tetap orang Indonesia. Bandingkan Marissa dengan Ahok.Berkali-kali Ahok menekankan bahwa dia adalah orang Indonesia. Seakan dia harus berjuang hanya untuk mendapat pengakuan untuk hal yang satu ini. PR yang tidak perlu dikerjakan oleh Marissa saat ia mencalonkan diri sebagai Wagub.

Beberapa kecaman tentang Ahok bertebaran, menyebut dia Cina dan mempertanyakan rasa nasionalismenya terhadap Indonesia. Apa sebenarnya arti kata “Cina” di Indonesia? Kebanyakan menyebutkan, orang Cina pantas disebut demikian karena nenek moyang mereka berasal dari Cina, bukan dari Indonesia. Inilah yang tidak terjadi pada Marissa Haque, yang nenek moyangnya juga tidak berasal dari Indonesia. Tidak ada yang meragukan nasionalismenya, dengan menyebut dia sebagai orang Pakistan atau India. Padahal, jelas sekali dia menyatakan bahwa kakek dan ayahnya bukan orang Indonesia. Inilah diskriminasi yang masih mengakar, dan seringkali tidak disadari di Indonesia. Padahal menurut penjelasan UU no. 12 tahun 2006 konsep Indonesia asli adalah orang yang menjadi warga negara sejak lahir dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas kehendaknya sendiri. Lalu, ketentuan Pasal 4 menegaskan bahwa anak yang dilahirkan di wilayah Negara Republik Indonesia dianggap Warga Negara Indonesia sekalipun status Kewarganegaraan orang tuanya tidak jelas. Jadi, mengidentifikasi Ahok sebagai “Cina” sudah bisa dianggap melanggar hukum. Mengapa sebutan Cina ini begitu ditekankan? Padahal, ada banyak sekali migran-migran dari India dan Timur Tengah di Indonesia? Tapi, hanya Cina yang seolah berbeda.

Dan apa arti Cina itu sendiri? Cina yang mana? Sedangkan, garis perbatasan negara selalu berubah-ubah. Yang dinamakan Cina sekarang bukanlah lagi Cina yang dulu. Ada Taiwan dan RRT, yang keduanya disebut Cina, namun dengan ideologi yang cukup berbeda. Kalau kita menganggap bahwa suku Han adalah etnis Cina yang asli, etnis yang dianggap asli pun sudah banyak tercampur oleh darah Mongolia karena penjajahan bertubi-tubi. Sedangkan orang Cina yang tinggal di sebelah Barat, juga telah bercampur dengan mereka-mereka yang tinggal di perbatasan Kazahktan dan Afganistan. Karena itulah di bagian itu, banyak orang yang berhidung mancung dibanding yang lain. Bila kita menganggap murni sebagai yang lebih tua, sebenarnya sebagian nenek moyang penduduk Nusantara asalnya dari Yunan (Cina Selatan).

Beribu-ribu tahun yang lalu mereka telah bermigrasi dan menyebar di beberapa kepulauan di Indonesia. Jadi, bukankah mereka sebenarnya bisa dianggap sebagai Cina yang lebih murni daripada Cina di Negaranya yang telah tercampur dengan darah Mongolia? Antara Cina dan bukan Cina di Nusantara seharusnya tidak menjadi masalah, karena mayoritas dari mereka yang merasa pribumi sendiri adalah para migran. Kalau banyak orang akan ngotot bahwa identitas itu tergantung dari mana nenek moyang kita berasal, mungkin orang Indonesia akan berganti dengan orang Persia, orang Arab, orang India, dan orang Cina, karena yang nenek moyangnya berasal dari tempat yang disebut Indonesia akan jarang sekali, bila kita memang mau menelurusi ke belakang. Namun, pemerintah penjajahan Belanda menginginkan adanya adu domba. Sejak abad ke-18, diadakan pemisahan antara mereka yang dianggap Cina dan mereka yang disebut pribumi. Hal ini dilanjutkan dengan adanya Staats Regeling, Staatsblad No. 1917-30, yang mengharuskan mereka mempunyai identitas sebagai Cina atau pribumi. Mereka yang merasa dan diharuskan menjadi Cina, ironisnya adalah manusia-manusia yang baru saja datang dari Negara Cina – yaitu mereka yang kebanyakan telah tercampur dengan Mongolia. Sedangkan, para pendatang dari Yunan, akhirnya harus disebut Indonesia pribumi. Tentu, dalam masa perang, seringkali ada kekacauan identitas. Perkawinan silang juga terjadi dari dulu. Plus, adanya perselingkuhan dan lain-lain, yang menambah tidak mungkinnya lagi, seseorang mempunyai etnis yang murni. Diskriminasi pun berlanjut. Dari kolom KTP sampai passport, stempel Cina masih melekat. Sekarang, stempel seperti ini telah ditiadakan, namun sebutan Cina masih bergentayangan. Tidak peduli, mereka lahir dan besar di Indonesia dan nenek moyangnya telah bergenerasi tinggal di Indonesia. Yang dianggap Cina seringkali tetaplah Cina.

Diskriminasi seperti ini bisa dianggap sepele, namun ketika kerusuhan Mei’ 98 terjadi, kita bisa melihat, diskriminasi ini bukan hal yang remeh. Begitu juga dengan munculnya tokoh seperti Ahok sebagai calon gubernur. Masih saja yang dijadikan bahan untuk menjatuhkan dia adalah kecinaannya. Tentu saja diskriminasi bisa datang dari berbagai pihak. Mereka yang merasa “Cina”, misalnya, melarang anaknya berpacaran dengan yang dianggap “pribumi”. Memang, kebanyakan manusia menderita amnesia sejarah, sehingga mereka berpaku pada etnisitas yang bisa menimbulkan rasisme luar biasa tanpa disadari.

Saya telah tinggal di beberapa Negara, dan kebanyakan dari teman saya di luar negeri menyebut saya orang Indonesia, karena kebetulan saya lahir dan besar di Negara yang sekarang bernama Indonesia, dan berwarga negara Indonesia. Namun, ketika saya pulang, ke tempat saya dilahirkan, saya masih disebut “Cina”. Sebutan yang sangat mengejutkan beberapa teman saya di Negara lain. Karena bagi mereka tempat kelahiran dan kewarganegaraan saya sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menyebut saya orang Indonesia. Anehnya, ketika saya mempertanyakan sebutan “Cina” ini di Negara saya dilahirkan dan dibesarkan, justru di sinilah, masih banyak yang menuduh saya mengada-ada, tidak saja dari mereka yang dianggap “pribumi” namun juga yang disebut “Cina”. Rasisme yang ditanamkan oleh pemerintah kolonial Belanda masih mempunyai dampak luar biasa!

sumber :
https://www.facebook.com/notes/soe-tjen-marching-full/ahok-dan-cina-dimuat-di-koran-tempo-sabtu-1108/10150989039242499


posted from my LG Optimus White using WordPress for Android