Category Archives: sGun►Social Life

WWF Earth Hour 2011, Indonesia, 26 Maret 2011, 20.30-21.30 WIB (GMT+7)

akhirnya, tiba juga Earth Hour 2011…
heheheh… XD

Earth Hour 2011

Earth Hour 2011

saya yakin sudah banyak diantara anda yang tahu apa itu Earth Hour, karena Indonesia telah resmi bergabung dalam salah satu negara anggota event Earth Hour, dan iklan pun telah ditayangkan di TV.. 😀
atau anda malah tidak tahu sama sekali apa itu Earth Hour..???
okelah kalo begitu.. saya beri sedikit detailnya.. 🙂

Earth Hour adalah salah satu event yang pertama kali diselenggarakan di Australia pada tahun 2007, dimana pada saat itu Australia memiliki inisiatif untuk meluangkan waktu 1 jam saja untuk melakukan penghematan penggunaan listriknya dengan harapan akan memberikan sumbangan dalam pelestarian lingkungan. pada tahun 2007 Australia melakukan penghematan dengan mematikan lampu-lampu pada gedung-gedung di Sydney, tidak terkecuali juga landmark dan tempat wisata mereka. hal ini juga sangat direspon positif oleh warga Australia, hal ini terbukti dari dukungan warga Australia yang secara spontan juga mematikan lampu-lampu di rumah mereka.
Melihat program ini, masyarakat dunia ‘sepertinya’ tertarik. 😀 dan pada tahun 2009 *dimana saya pertama kali mengenal Earth Hour* terdapat 4000 kota di 88 negara bergabung dalam program ini. tidak berhenti sampai disitu, pada tahun 2010, Earth Hour tercatat sebagai event tahunan terbesar di dunia yang diikuti oleh lebih dari 128 negara. hal ini membuktikan bahwa banyak negara *atau manusia* yang masih pedulli pada bumi kita ini.

kalau boleh saya bilang, memang event ini hanyalah sebagai simbol bahwa kita punya niat dan tekat untuk melestarikan bumi kita tercinta ini. tidak semua orang mau mematikan lampu rumah mereka dengan beribu alasan. it’s okay, jangan memaksakan diri jika memang tidak bisa. kepedulian kita terhadap bumi tidak ditunjukkan dari satu jam pada Earth Hour saja. kepedulian kita terhadap bumi kita harus dapat kita terapkan pada kehidupan kita sehari-hari. seperti dengan menghemat listrik dalam kehidupan sehari-hari, mematikan lampu bila tidak digunakan, mematikan AC jika tidak terlalu panas, mencabut charger handphone jika tidak digunakan, dsb. *tahukah anda:charger handphone anda menghabiskan daya minimal setara dengan lampu 5 Watt, dan akan terus mengkonsumsi daya bila tidak dicabut meski tidak sedang melakukan charging*
hal-hal seperti diatas adalah hal paling simpel yang dapat kita lakukan sehari-hari. atau kalau mau lebih lagi, kita juga bisa menghemat panggunaan BBM, jangan terpaku pada listrik saja. kita bisa menggunakan sepeda untuk beraktifitas. tidak bisa se-ekstrim itu? okay, kita bisa turut serta berperan dalam penghematan BBM dengan cara tidak mengemudi ugal-ugalan, rajin merawat mesin, dengan demikian BBM yang terpakai akan hemat juga. it’s easy khan.. 😀

lampu tetangga XD

lampu tetangga XD

lampu jalan XD

lampu jalan XD

memang saat ini meskipun Indonesia telah resmi bergabung dalam event Earth Hour, saya lihat belum sepenuhnya didukung oleh warganya. semoga di tahun depan, event ini dapat menjadi lebih bermakna bagi warga Indonesia.. 😀


Berkunjung ke Makam Tan Malaka di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur

kali ini saya sedang berada di kota Kediri dalam rangka mempersiapkan kegiatan kampus, yaitu COP 2011. saya akan tinggal di Kediri selama 3 hari untuk melakukan negosiasi dengan para ‘sesepuh’ warga, yang nantinya dusun mereka akan kami pakai untuk kegiatan kami selama 1 bulan. tentu saja saya berangkat tidak hanya sendiri, karena saya hanyalah staf volunteer saja, saya pergi dengan seorang ketua pelaksana kegiatan COP. apa itu COP? silahkan nanti dilihat pada artikel COP yang membahasnya.

nah, kebetulan pada hari ini saya berkesempatan diajak berkunjung ke Makam Tan Malaka di wilayah Selopanggung, salah seorang pelaku sejarah kita yang sangat tersohor. saya diajak berkunjung ke makam ini bukan dalam rangka survey lokasi untuk COP seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, namun hal ini masih berkaitan dengan bidang yang sama, yaitu untuk keperluan kegiatan Service Learning jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) *juga bukan jurusan saya*.

pada saat survey sebelumnya, ketua pelaksana COP pernah diberi keluh kesah oleh perangkat desa Selopanggung. karena mereka memiliki banyak potensi alam namun tidak tahu bagaimana cara memanfaatkannya, salah satunya adalah batu *arti kata selo sama dengan batu*. nah karena itu, sang ketua mencoba mencarikan jalan dengan cara mencocokan potensi batu itu dengan keahlian yang dimiliki jurusan DKV, yaitu Urban Art.

selain itu, yang menarik minat dan perlu diberdayakan adalah adanya makam pelaku sejarah negara kita, Tan Malaka. makam ini telah beberapa kali diteliti oleh seorang asal Belanda, orang ini adalah ahli sejarah yang telah berkeliling khusus untuk mencari makam Tan Malaka. dan, pencariannya berakhir di desa Selopanggung ini. orang ini juga telah bekerja sama dengan beberapa dokter untuk membuktikan kebenaran jasad dalam makam tersebut adalah Tan Malaka.

makam berada di tengah sawah

makam berada di tengah sawah

setelah mengumpulkan informasi dari warga desa, akhirnya orang Belanda ini memberanikan diri mengajukan ijin untuk membongkar makam tersebut. dengan disaksikan oleh staff pemerintahan, keluarga ahli waris dan beberapa teman seperjuangan Tan Malaka, akhirnya makam itu dibongkar untuk mengambil serpihan tulang untuk tes DNA. serangkaian tes telah dilakukan di berbagai negara, antara lain Australia dan India. namun belum membuahkan hasil pasti apakah itu adalah jenasah Tan Malaka asli atau bukan.

sementara itu beberapa sesepuh warga berpendapat bahwa itu adalah makam Tan Malaka asli, karena dahulu mereka sempat melihat langsung kejadian penembakan Tan Malaka disitu. hanya saja selama ini mereka tidak berani menceritakan hal itu karena takut pada pemerintah *mungkin karena trauma dengan rezim Orde Baru*.

makam bercampur dengan makam umum warga

makam bercampur dengan makam umum warga

ditengah ketidak-pastian tentang keaslian makam tersebut, berhembus kabar bahwa pemerintah ingin makam tersebut dipindahkan ke Kalibata, Jakarta. sungguh ironis memang, dengan mudahnya pemerintah berkeinginan seperti itu. padahal selama ini warga yang merawat makam itu, maka wajarlah jika warga menginginkan agar makam itu tetap di Selopanggung, dengan harapan dapat membuat nama Selopanggung lebih dikenal masyarakat dan dapat menjadi tempat bersejarah juga. setelah kejadian itu, kini makam tersebut tampak terabaikan. rumput-rumput tumbuh tak terawat di sekitar makam, dan parahnya lagi, tidak ada nisan atau penanda nama pada makam itu, satu-satunya tanda hanyalah sebatang pohon kecil yang seukuran pinggang orang dewasa.

makam tanpa tanda

makam tanpa tanda